KOLOSTRUM
Selasa, 16 Maret 2010
Kolostrum (dari bahasa latin colostrum) atau jolong adalah susu yang dihasilkan oleh kelenjar susu dalam tahap akhir kehamilan dan beberapa hari setelah kelahiran bayi. Kolostrum manusia dan sapi warnanya kekuningan dan kental. Kolostrum penting bagi bayi mamalia (termasuk manusia) karena mengandung banyak gizi dan zat-zat pertahanan tubuh.
Kolostrum (IgG) mengandung banyak karbohidrat, protein, dan antibodi, dan sedikit lemak (yang sulit dicerna bayi). Bayi memiliki sistem pencernaan kecil, dan kolostrum memberinya gizi dalam konsentrasi tinggi. Kolostrum juga mengandung zat yang mempermudah bayi buang air besar pertama kali, yang disebut meconium. Hal ini membersihkannya dari bilirubin, yaitu sel darah merah yang mati yang diproduksi ketika kelahiran.
Kolostrum adalah cairan pra-susu yang dihasilkan oleh induk mamalia dalam 24-36 jam pertama setelah melahirkan (pasca-persalinan). Kolostrum mensuplai berbagai faktor kekebalan (faktor imun) dan faktor pertumbuhan pendukung kehidupan dengan kombinasi zat gizi (nutrien) yang sempurna untuk menjamin kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan kesehatan bagi bayi yang baru lahir. Namun karena kolostrum manusia tidak selalu ada, maka kita harus bergantung pada sumber lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolostrum sapi (bovine colostrum) sangat mirip dengan kolostrum manusia dan merupakan suatu alternatif yang aman. Bahkan ada laporan yang menyatakan bahwa kolostrum sapi empat kali lebih kaya akan faktor imun daripada kolostrum manusia.
Ada lebih dari 90 bahan bioaktif alami dalam kolostrum. Komponen utamanya dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor imun dan faktor pertumbuhan. Kolostrum juga mengandung berbagai jenis vitamin, mineral, dan asam amino yang seimbang. Semua unsur ini bekerja secara sinergis dalam memulihkan dan menjaga kesehatan tubuh.
Suhermi, dkk (2009: 27) menjelaskan bahwa kolostrum merupakan bahan yang kaya akan anti infeksi, dapat membersihkan alat pencernaan bayi dari zat-zat yang tidak berguna. Protein utama dalam klostrum adalah immunoglobulin (IgG, IgA dan IgM), yang merupakan antibodi guna menangkal dan menetralisir bakteri, virus, jamur dan parasit. IGF-1 dan IGF-2 merupakan kelompok lain dalam kolostrum dan keduanya dapat memicu dan mempercepat pertumbuhan sel dan mempunyai kemampuan untuk membantu pengeluaran hormon dari berbagai sistem tubuh. Protein lain termasuk hormone, enzym, gula kompleks serta faktor pertumbuhan akan mempercepat proses pemulihan. Kolostrum juga mengandung proline-richpolypeptide (PRP) yang dapat membantu menormalkan sistem imun yang terlalu aktif ataupun kurang aktif. Bahan-bahan protein antibodi tersebut zat anti-infeksi yang keberadaannya adalah 10-17 kali lebih banyak dibandingkan ASI yang matang. Kadar karbohidrat dan lemak lebih rendah dibandingkan dengan ASI matang. Total energi lebih rendah jika dibandingkan dengan susu matang, volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam.
Lebih lanjut Supriyadi, dkk (2002: 20) menjelaskan bahwa kolostrum memiliki kandungan protein dua kali lebih banyak, atau bahkan lebih, dibandingkan dengan ASI mature. Kolostrum yang akan terus keluar selama kurang lebih seminggu setelah bayi lahir juga mengandung beberapa jenis asam amino yang tidak terdapat di dalam ASI mature. Perbedaan lain kolostrum dengan ASI mature adalah kolostrum memiliki kadar gula yang lebih rendah. Hal ini, menurut sebuah teori, diperlukan untuk mengimbangi tingginya kadar gula darah pada bayi baru lahir. Selain itu, kolostrum juga mengandung aneka jenis vitamin, seperti vitamin A, B6, B12, C, D dan K serta mineral khususnya zat besi (Zn) dan kalsium (Ca). Selain mengandung aneka jenis zat gizi, kolostrum sebagaimana juga ASI mature mengandung enzim pencernaan yang belum mampu diproduksi oleh bayi yang baru lahir. Artinya bayi yang mendapat kolostrum sudah memperoleh makanan separuh cerna yang sifatnya mudah diserap. Kolostrum juga befungsi sebagai obat pencahar bagi bayi, yang membantu memudahkan perjalanan mekoonium (zat berwarna hijau tua yang sudah terdapat di dalam usus bayi sejak dia masih berada di dalam kandungan). Mekonium ini merupakan medium perkembangbiakan pertama bagi bakteri Lactobacillus bifidu, dan di dalamnya juga mengandung faktor pertumbuhan yang penting bagi bakteri tersebut. Bakteri tersebut sangat bermanfaat dalam membantu sistem pencernaan bayi untuk mempersiapkan diri agar mampu mengkonsumsi ASI. Di samping bermanfaat untuk mempermudah kerja sistem pencernaan bayi, kolostrum juga membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi dan masih rendah.
Manfaat dan kandungan kolostrum adalah sebagai berikut:
- Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara, mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli dan duktus dari kelenjar payudara sebelum dan setelah masa puerperium.
- Disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat
- Komposisi dari kolostrum ini dari hari ke hari selalu berubah
- Merupakan cairan viscouse kental dengan warna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan dengan susu yang matur.
- Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekoneum dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang
- Lebih banyak menganung protein dibandingkan dengan ASI yang matur, tetapi berlainan dengan ASI yang matur pada kolostrum protein yang utama adalah globulin (gamma globulin).
- Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan dengan ASI yang matur, dapat memberikan perlindungan bayi bayi sampai umur 6 bulan
- Kadar karbohidrat dan lemak rendah jika dibandingkan dengan ASI matur
- Mineral, terutama natrium, kalium dan klorida lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu matur.
- Total energi lebih rendah jika dibandingkan dengan susu matur, hanya 58 kal/100 ml kolostrum
- Vitamin yang larut dalam lebih tinggi jika dibandingkan dengan ASI matur, sedangkan vitamin yang larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
- Bila dipanaskan akan menggumpal, sedangkan ASI matur tidak
- pH lebih alkalis dibandingkan dengan ASI matur
- Lipidnya lebih banyak mengandung kolesterol dan lesitin dibandingkan dengan ASI matur
- Terdapat tripsin inhibitor, sehingga hidrolisis protein di dalam usus bayi menjadi kurang sempurna. Hal ini akan lebih banyak menambah kadar antibodi pada bayi.
- Volume berkisar 150-300 ml/24 jam.
UNTUK MENCARI DARI SUMBER LAIN SILAHKAN PILIH SITUS DIBAWAH INI
Cara Membuat Makanan Bayi
Senin, 15 Maret 2010Sekilas Tentang Makanan Bayi
Menyimpan makanan bayi
Dibekukan
Untuk mengurangi pekerjaan memasak untuk bayi, dan terbuangnya makanan lebihan bayi (bayi makan sangat sedikit), berbagai makanan bayi bisa dimasak dalam jumlah banyak lalu di bekukan di lemari es. Dengan cara ini , makanan bisa tahan agak lama. Perlu diingat juga tidak semua makanan bisa dibekukan, beberapa berubah teksturnya setelah masuk lemari pembeku seperti tahu. Silakan mencoba sendiri mana yang tetap baik dibekukan, mana yang tidak.
Cara membuat:
1. Masak makanan bayi (satu macam, misal: apel) hingga berbentuk bubur lembut
2. Tuang ke dalam plastik pencetak es batu
3. Tutup plastik bila perlu
4. Simpan di lemari pembeku es (freezer)
5. Setelah beku, keluarkan dari plastik pencetak es batu, simpan ke dalam kantong plastik yang sudah diberi nama jenis makanan (misal: bubur apel) dan tanggal pembuatan di bagian luarnya.
6. Simpan kembali di lemari pembeku
7. Gunakan makanan yang sudah beku sesuai kebutuhan bayi. Misal satu atau dua buah hasil cetakan dengan satu atau lebih rasa dipadukan. Biarkan mencair dan hangatkan kembali sebelum dipakai.
Didinginkan
Makanan bayi bisa juga dibuat dengan jumlah sedikit, lalu setiap sisa makanan disimpan di lemari pendingin (refrigerator). Makanan yang didinginkan di lemari pendingin sebaiknya tidak dipakai bila sudah melebihi 48 jam (beberapa orang mengatakan bisa tahan hingga 72 jam).
Jangan memberi makan bayi langsung dari tempat menyimpannya. Ambil sedikit ke piring, bila kurang bisa ditambah. Air liur bayi yang menempel di sendok makannya bisa membawa bakteri yang membuat makanan menjadi cepat rusak.
Bubur tepung beras
Tidak tahu persis bisa atau tidak memakai tepung beras sudah jadi, yang jelas bisa membuat tepung beras sendiri dari beras.
Tepung beras dimasak hingga matang, kira-kira 15 menit. Sesuaikan kekentalannya dengan kebutuhan bayi anda.
Sereal beras buatan pabrik
Kandungannya gizinya sama saja dengan bubur tepung beras bahkan lebih sedikit karena sereal beras buatan pabrik ini sudah diolah terlebih dahulu dengan cara dicuci berkali-kali, dimasak, dan dikeringkan yang mengakibatkan banyak kandungan gizi yang terbuang dalam proses pengolahan.
Hanya saja, sereal buatan pabrik ini sangat mudah dalam pemakaiannya karena tidak perlu dimasak lagi.
Kaldu
Kaldu adalah benda penting yang sebaiknya dimiliki setiap saat terutama ketika bayi sudah bisa memakannya. Bisa kaldu ayam, atau kaldu daging. Banyak yang menyarankan membuat kaldu dari kaki ayam karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. Karena lebih awet, lebih baik dalam bentuk beku. Gunakan seperlunya sesuai dengan kebutuhan.
Bubur sayuran
Pada dasarnya bisa menggunakan sayuran apapun. Umbi-umbian, labu-labuan, daun-daunan, brokoli, bunga kol, wortel, biji kacang-kacangan misalnya kacang hijau yang sudah dibuang kulitnya, tahu.
Cara membuat:
1. Sayuran dikupas, dipotong-potong, lalu dimasak; bisa direbus atau dikukus (dikukus lebih baik, karena gizinya tidak terbuang ke air). Untuk biji kacang hijau bisa direbus hingga halus.
2. Sayuran matang dihaluskan, bisa menggunakan blender atau disaring sesuai kebutuhan anak. Bila menggunakan blender, gunakan air sisa rebusan sayuran sebagai cairan memblender. KECUALI untuk air sisa rebusan wortel dan daun hijau karena memiliki kandungan nitrat yang tinggi.
3. Siap pakai, atau disimpan.
4. Tambahkan bubur beras atau sereal ketika akan dipakai bila dirasa kurang kental.
Bubur buah-buahan
Beberapa buah ada bisa langsung dimakan tanpa harus dimasak (pisang, alpukat). Untuk buah-buahan yang agak keras (apel, pear) sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Proses pembuatannya sama dengan membuat bubur sayuran.
Beberapa buah akan berubah menjadi kecoklatan apabila disimpan. Untuk menghindari hal ini, bisa diberikan sedikit perasan lemon sebelum bubur buah-buahan akan disimpan.
MP-ASI & CONTOH MAKANAN BAYI SEHAT

Sekilas Tentang MP ASI & Contoh Makanan Bayi
ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan tunggal terbaik yang bisa memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi normal untuk tumbuh kembang di bulan-bulan pertama kehidupannya. Itu sebabnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF) menetapkan pemberian ASI eksklusif pada bayi selama 6 bulan. Ini berarti, si kecil hanya mendapat ASI, tanpa makanan tambahan lain selama masa itu. Penelitian menunjukkan, banyak manfaat diperoleh bayi yang mendapat ASI. Tidak ada yang bisa menggantikan ASI yang memang di'desain' khusus untuk bayi. Dan jangan lupa, proses pemberian ASI akan menumbuhkan kelekatan emosi yang dalam dan kuat antara mama dan bayi.
Setelah usia 6 bulan, ASI hanya memenuhi sekitar 60-70% kebutuhan gizi bayi. Jadi, bayi mulai membutuhkan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian makanan padat pertama ini harus memperhatikan kesiapan bayi, antara lain, keterampilan motorik, keterampilan mengecap dan mengunyah, plus penerimaan terhadap rasa dan bau. Makanya, pemberian makanan padat pertama perlu dilakukan secara bertahap. Misalnya, untuk melatih indera pengecapnya, berikan bubur susu satu rasa dulu, baru kemudian dicoba yang multi rasa.
Usia 6-8 Bulan – Makanan Lumat
Saat mulai memberi si kecil makanan padat, jangan bertubi-tubi memberi aneka jenis makanan dalam waktu singkat. Beri jeda beberapa hari antara setiap jenis makanan baru, sehingga tidak terlalu memaksa anak. Anda pun punya cukup waktu untuk memantau kalau-kalau ada masalah yang timbul berkaitan dengan makanan tertentu.
Juga, biarkan bayi memutuskan berapa banyak makanan yang mau ditelannya. Untuk beberapa jenis makanan—dalam sehari—bayi Anda bisa jadi kelihatannya tidak makan terlalu banyak. Sedangkan bayi lain malah kelihatan sangat rakus. Tidak usah pusing. Ikuti saja apa maunya. Yang penting, Anda selalu memantau proses tumbuh kembangnya secara teratur.
Bagaimana memulainya?
Setelah usia 6 bulan, makanan padat pertama si kecil ini adalah makanan lumat, yakni bubur susu dan buah. Selama 2 minggu pertama, si kecil cukup diberi dua jenis makanan ini. Makanan lumat mudah dicerna dan cepat meninggalkan lambung si kecil. Pemberian makanan lumat ini dimulai dalam bentuk encer dan jumlahnya sedikit. Secara bertahap, makanan dikentalkan serta jumlahnya ditambah.
Pemberian secara bertahap ini perlu dilakukan karena sampai usia ini, jenis makanan yang paling bayi kenal adalah ASI (dan ia masih tetap membutuhkannya sampai usia 2 tahun). Jika ia mendorong keluar makanan atau menutup mulut rapat-rapat, jangan paksa. Mungkin ia belum siap untuk makan makanan padat.
Setelah bayi berhasil melalui masa 2 minggu ini dengan baik, Anda bisa memberinya makanan lunak, yakni nasi tim saring, sebanyak 1 kali dalam sehari. Nasi tim ini harus terdiri dari sumber karbohidrat, sumber protein, serta sumber zat pengatur.
Makan dari sendok butuh keterampilan tersendiri. Bisa jadi, Anda harus uji coba selama beberapa kali sampai bayi betul-betul terbiasa. Di usia ini, kebanyakan pemenuhan kalori masih berasal dari ASI. Dan tujuan utama mengenalkan makanan padat pada bayi adalah mengajarinya cara makan yang benar-benar berbeda serta memperkenalkan aneka citarasa dan tekstur makanan baru. Yang terpenting, buat proses belajar mengenal makanan baru jadi pengalaman yang menyenangkan.
Pentingnya Variasi
Untuk memperkenalkan makanan pada bayi, mulailah dengan 1 jenis makanan. Tunggu paling tidak selama 4 hari sebelum mengenalkan makanan jenis lain. Adanya tenggang waktu membuat bayi makin mengenal dan bisa menerima makanan barunya. Reaksi alergi biasanya baru muncul beberapa hari setelah jenis makanan itu dikonsumsi. Jika timbul reaksi alergi jenis tertentu, Anda jadi tahu persis penyebabnya.
Sebagian pakar percaya, penting untuk mulai memperkenalkan sayuran hijau dulu, sehingga pola citarasa bayi tidak ‘termanjakan' dengan rasa manis dari buah-buahan. Sebagian pakar lagi menganggap itu hanya mitos belaka. Menurut mereka, bayi terlahir dengan menyukai yang manis-manis. Anda bisa mengombinasikan kedua pendapat ini, dan melihat mana yang paling pas buat bayi Anda.
Yang pasti, mengombinasikan berbagai jenis makanan akan membuat bayi tidak cepat bosan, memicu selera makannya plus tidak menjadikannya si pemilih makanan. Jangan sampai ia terbiasa makan makanan yang itu-itu saja. Ia bisa kekurangan gizi yang dibutuhkannya.
Jadikan Sebagai Rutinitas
Waktu makan—sarapan, makan siang dan makan malam—harus Anda terapkan secara konsisten. Ini bukannya tanpa alasan. Sistem pencernaan bayi perlu dilatih untuk belajar menerima, mencerna, serta menyerap makanan pada waktu-waktu yang ditentukan. Untuk masing-masing waktu makan itu, sajikan kelompok makanan yang ada dalam tabel 'Jadwal pemberian makanan si kecil' . Perlu dicatat, kalau kenyang si kecil akan memberi sinyal. Misalnya, menjulurkan lidah atau memalingkan kepala. Jadi, jangan takut si kecil akan makan secara berlebihan.
Mulai Memperkenalkan Biskuit
Anda sudah bisa mulai memberi biskuit bayi sebagai camilan di antara waktu makan. Koordinasi antara mata dan tangannya sudah cukup baik, sehingga ia bisa membawa tangannya ke mulut. Pada umur 7 bulan, rata-rata bayi sudah mampu makan sendiri biskuitnya. Umumnya, tekstur biskuit yang lembut membuat bayi mudah mengemutnya, bahkan akan membantu merangsang pertumbuhan giginya.
Gizi Penting untuk Usia 6-12 Bulan
Pada usia 6-12 bulan, pola makan anak harus mengikuti piramida makanan. Makin ke atas makin sedikit porsi makanan yang harus dikonsumsi anak. Berikut urutannya dari paling bawah ke paling atas:
- Sumber karbohidrat , yakni roti, jagung, nasi, cereal , dan sebagainya, dikonsumsi sebanyak 1-3 kali/hari @ 1 mangkuk kecil.
- Sumber zat pengatur , yaknis sayuran dikonsumsi sebanyak 1-2 kali/hari sekitar 25-50 g mentah. Buah dikonsumsi sebanyak 1-2 kali/hari sekitar 25-75 g.
- Sumber protein yaitu ASI dikonsumsi sebanyak 2-3 kali/hari. Protein lainnya dikonsumsi sebanyak 1-3 kali/hari. Misalnya, ayam kampung (paha bawah), telur (1/2–1 butir), daging (1/2 potong sedang/20 g), kacang-kacangan (1-2 sendok makan), tahu (1 potong/50 g), tempe (1 potong/25 g), serta ikan (1 potong sedang/20 g).
- Bila perlu, berikan sumber lemak berupa minyak sebanyak 1/2 sendok teh.
Penting: ASI adalah sumber utama untuk karbohidrat, lemak dan protein.
Masalah Makanan yang Bisa Timbul Bagi Bayi Usia 6-8 Bulan: Alergi Makanan
Alergi makanan adalah suatu reaksi yang timbul pada tubuh setelah seseorang mengonsumsi suatu jenis makanan. Reaksi ini dipicu oleh kondisi kekebalan tubuh pada orang tersebut. Bila salah satu dari Anda atau pasangan Anda punya riwayat alergi makanan, risikonya pada si kecil meningkat sampai 20-30%. Jika Anda berdua alergi, risikonya pada anak naik lagi hingga 40-70%.
Tanda-tanda si kecil mengalami alergi makanan, adalah jika setelah Anda memberinya satu jenis makanan, ia menunjukkan gejala-gejala, antara lain:
- Ruam di kulit
- Diare
- Muntah
Munculnya alergi membutuhkan lebih dari satu kali paparan untuk sensitif terhadap alergen. Dan jika anak Anda menolak satu jenis makanan, ini belum tentu berarti ia mengalami alergi. Siapa tahu ia hanya tidak mau makan saja.
Perlu dicatat: Menangis terus-menerus bisa pula menjadi pertanda alergi makanan, meski umumnya diikuti ruam, diare, atau muntah. Kebanyakan anak yang alergi makanan akhirnya bisa mengatasi alerginya. Makanya, Anda bisa memperkenalkan lagi makanan itu dengan aman (konsultasi dulu dengan dokter anak Anda).
Jadual Pemberian Makan Bagi Si Kecil Usia 6-8 Bulan
6-7 bulan
- ASI sesuai keinginan atau MP-ASI sehari 3-4 kali 150-180 ml
- 1 kali bubur susu + 1 kali buah + 1 kali nasi tim saring
7-8 bulan
- ASI sesuai keinginan atau MP-ASI sehari 3-4 kali 180-210 ml
- 1 kali bubur susu + 1 kali buah + 2 kali nasi tim saring
Sekilas Tentang Contoh Makanan Bayi
Setelah si kecil mulai mendapat MPASI, begitu banyak ragam bahan makanan yang bisa diberikan. Berikut 11 makanan yang paling "akrab" dengan bayi disertai penjelasan dr. Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K).
1.Oatmeal/bubur gandum untuk bayi
Bubur gandum/oatmeal merupakan sumber karbohidrat. Makanan yang mengandung serat, fitokemikal, vitamin, mineral, protein dan juga rendah lemak ini baik untuk kesehatan, termasuk kesehatan bayi. Kandungan seratnya baik untuk pencernaan karena mencegah konstipasi/sembelit dan sifat seratnya yang larut dalam air akan menurunkan kadar kolesterol, serta mampu "mengatur" penyerapan karbohidrat yang baik untuk penderita diabetes. Bahkan oatmeal mengandung substansi untuk mencegah kanker. Oatmeal juga membuat lambung terasa penuh untuk jangka waktu cukup panjang.
Bayi bisa diberikan oatmeal sejak berusia 7 bulan. Rebus serpihan gandumnya sebentar dengan sedikit air hingga lembut. Bubur gandum untuk bayi bisa disajikan plain (apa adanya) atau dicampur dengan susu atau buah, bisa juga dibuat kue camilan. Namun, gandum yang merupakan bahan oatmeal mengandung gluten yang pada sebagian bayi dapat memicu alergi.
2. Mi, kentang, pasta, umbi-umbian
Makanan bayi tak harus berupa nasi tim saja. Bisa dimulai pemberiannya pada usia 6 atau 7 bulanan (saat dimulainya pemberian MPASI). Sumber karbohidrat lain seperti mi beras dan terigu, kentang, ubi, jagung, roti gandum, atau pasta boleh saja diberikan. Namun dalam pengolahannya hindari bumbu yang berlebihan terutama bumbu yang berasal dari kemasan mi instan (lihat Aturan Pemberian Bumbu).
3. Daging ayam
Manakah yang lebih baik, daging ayam kampung atau ayam negeri? Sebenarnya baik daging ayam kampung maupun ayam negeri sama baiknya, selama ayam itu sehat. Ada anggapan ayam kampung lebih baik daripada ayam negeri karena hidup ayam kampung relatif lebih alamiah ketimbang ayam negeri yang banyak diberi suntikan hormon, vaksin dan lainnya.
Perlu dicermati, sebagian besar sapi, ayam, dan binatang peliharaan lain juga diternakkan dalam kondisi "factory-like" atau dalam jumlah besar dan secara rutin diberi antibiotik dosis rendah melalui makanan atau air minumannya. Di Amerika Serikat diperkirakan 70% antibiotik dipergunakan untuk hewan ternak. Hal ini potensial menyuburkan kuman yang resisten terhadap antibiotik. Sebagian bakterinya ini bisa menyebar melalui daging yang dimasak tidak sampai matang.
Residu bahan-bahan kimia pada daging ternak terkonsentrasi pada lemak dan kulit. Untuk memperkecil risiko dampak buruknya, buang lemak dan kulit dari daging ternak sebelum memasaknya.
4. Ikan air tawar atau ikan laut?
Selain tinggi protein, ikan memiliki kandungan lemak tak jenuh yang sangat bermanfaat bagi pembentukan otak bayi. Ikanbaik ikan air tawar maupun ikan laut seperti tuna, tengiri, makarel, dan kakap besardapat diberikan kepada bayi usia 9 bulan ke atas. Pengolahannya bisa ditim, dipanggang, ditumis, atau dipepes. Cara pengolahan seperti ini relatif paling "aman" karena nilai gizi ikan hanya akan berkurang sedikit. Sementara cara pengolahan ikan dengan direbus atau digoreng berisiko menghilangkan mineral-mineral yang terkandung pada ikan karena larut dalam air atau minyak yang digunakan.
5. Telur ayam
Telur merupakan makanan kaya protein. Namun, pemberian telur kepada bayi terutama bagian putihnya, sering memicu alergi. Jadi kalaupun ingin menyajikan menu telur berikan kuning telurnya saja, itu pun setelah bayi usia 7 bulan. Sementara putih telur umumnya direkomendasi baru setelah usia bayi di atas 9 bulan.
Telur bisa disajikan dalam bentuk sup (telur dikocok lalu dimasukkan ke dalam air rebusan sup ayam atau sup lainnya). Atau rebuslah telur, lalu kuningnya dijadikan campuran tumis sayuran. Puding bayi pun dapat diperkaya kandungan gizinya dengan penambahan susu dan kuning telur.
6. Buah
Buah yang paling sering diberikan kepada bayi di awal pemberian MPASI adalah pisang. Namun, bukan berarti pisang adalah buah terbaik. Kebiasaan ini semata-mata terbentuk karena meniru begitu saja apa yang dilakukan kebanyakan orangtua dulu. Padahal banyak alternatif buah yang dapat diberikan, seperti pepaya, pir, apel, melon, semangka, mangga, avokad, dan jeruk. Sampai usia 7 bulan sebaiknya buah, kecuali avokad, diberikan setelah dikukus sebentar atau direbus dengan sedikit air, lalu dilumatkan menjadi seperti saus dengan atau tanpa susu.
7. Keju
Keju merupakan olahan dari susu dan termasuk dairy product yang dapat diberikan kepada bayi mulai usia 7 atau 8 bulan. Kandungannya tidak berbeda jauh dari susu ternak, yakni protein, lemak, vitamin, dan mineral. Olahan keju bisa dicampurkan ke dalam porsi makanan bayi bisa dengan cara diparut. Baik untuk menambahkan rasa gurih yang bermanfaat pada makanan bayi. Gunakan secukupnya atau kira-kira seukuran dadu dengan panjang, lebar, dan tinggi 1/2 ukuran kartu domino.
8. Madu
Beberapa zat yang terkandung dalam madu adalah fruktosa (gula buah), protein, vitamin, dan mineral. Soal boleh tidaknya pemberian madu pada bayi masih memunculkan kontroversi. Penelitian modern menemukan, madu asli (yang diambil langsung dari sarang lebah tanpa diolah lagi) ternyata mengandung kuman clostridium botulinum yang dibawa oleh kaki-kaki tawon. Spora dari clostridium botulinum ini bisa hidup dalam tubuh bayi dan menyebabkan infantile botulism dengan gejala panas, kembung, dan kejang. Penyakit ini amat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian. Itulah mengapa, terutama madu asli (yang masih mengandung lilin) amat tidak disarankan bagi bayi.
Untuk amannya, jangan memberikan madu sampai anak berusia 2 tahun. Tanpa madu pun bayi tak akan merugi. Bayi justru bisa merugi kalau diberi madu karena bisa menimbulkan keracunan botulism.
9. Yoghurt
Selain dari susu segar, yoghurt juga dapat dibuat dari susu skim (susu tanpa lemak) yang dilarutkan dalam air dengan perbandingan tertentu tergantung pada kekentalan produk yang diinginkan. Yoghurt boleh diberikan sejak bayi berusia 7 atau 8 bulan. Itu pun yoghurt yang memang dibuat khusus agar dapat dikonsumsi bayi, bukan sembarang yoghurt. Banyaknya sekitar 25 ml per hari. Setelah berusia setahun barulah anak dapat mengonsumsi semua jenis yoghurt dan menikmati manfaatnya sebagai sumber protein, kalsium, fosfor, dan lemak.
Yoghurt sebenarnya tidak berbeda jauh dengan susu karena pada dasarnya yoghurt adalah susu yang difermentasi dengan memasukkan bakteri lactobacillus, yaitu bakteri baik yang ada di saluran cerna dan ASI. Penambahan ini membuat asam dan laktosa (gula susu) terurai dan tekstur susu pun berubah jadi menggumpal.
Untuk konsumsi bayi, pilih yoghurt murni (tanpa penambahan rasa apa pun termasuk rasa buah). Kemudian campurkan dengan buah asli seperti mangga, pisang, stroberi, kiwi, melon, avokad atau pepaya yang dihaluskan (dilumat atau diblender).
Konsumsi yoghurt juga baik dilakukan di saat bayi mengalami diare serta membantu bayi yang menderita intoleransi terhadap laktosa. Laktosa susu pada yoghurt yang sudah dipecah oleh bakteri baik melalui proses fermentasi jadi mudah diserap pencernaan. Itulah mengapa yoghurt amat disarankan sebagai pengganti susu bagi anak yang tidak mampu mencerna laktosa dengan baik. Dengan minum yoghurt, anak terhindar dari diare akibat intoleransi laktosa. Selain itu, mengonsumsi yoghurt secara teratur dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaannya.
10. Es krim
Es krim boleh diberikan untuk bayi di atas 6 bulan sebagai camilan karena kandungan gizinya sama dengan susu. Rasa yang dipilih boleh apa saja; vanila, cokelat, stroberi dan lainnya tergantung pada selera bayi. Orangtua juga bisa membuat es krim sendiri dengan bahan bubur kacang hijau dicampur susu dan diblender kemudian dibekukan dan diblender lagi. Bayi juga menyukai fruit milk shake dari buah dengan es krim vanila dan susu yang diblender.
11. Aneka makanan botol siap saji
Kandungan gizi produk makanan bayi siap saji (umumnya produk impor dan dikemas dalam botol kecil-kecil) sudah diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan gizi bayi. Boleh saja diberikan kepada bayi dalam keadaan "emergensi" (umpamanya saat bepergian). Untuk sehari-hari, buatlah makanan rumah dari bahan lokal. Selain lebih murah, juga lebih mudah, sehat, dan segar.
ATURAN PEMBERIAN BUMBU
Masakan tim untuk bayi usia 9 bulan ke atas sudah boleh diberi bumbu masak alami. Contoh bumbu alami adalah bawang bombai, bawang merah, bawang putih, bawang daun, seledri, salam, serai, daun jeruk, kemangi, lengkuas, kunyit, kencur, dan lainnya. Namun, garam sebaiknya tidak diberikan kepada bayi di bawah 1 tahun karena bisa memperberat kerja ginjalnya. Lagi pula kebutuhan natrium yang terkandung dalam garam sudah tercukupi lewat makanan. Lada, sebaiknya tidak diberikan dulu karena rasanya yang pedas. Pemberian gula pun harus hati-hati karena bila terlalu banyak bisa mengganggu pencernaan bayi (mencret) atau pada anak yang sudah punya gigi akan mempermudah kemungkinan kerusakan gigi. Jadi, perlu diketahui, sebetulnya pemberian gula dan garam tidak menambah kandungan nutrisi dalam makanan. Malah akan membuat anak jadi terbiasa dengan makanan manis atau asin di kemudian hari yang merupakan kebiasaan kurang sehat.
Hindari pula bumbu masak artifisial seperti vetsin atau penyedap rasa lain yang umumnya mengandung monosodium glutamat (MSG), zat pengawet, maupun pewarna karena tak bermanfaat, bahkan dapat merugikan kesehatan bayi.
Perawatan Masa Nifas

1. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring-miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke 2 diperbolehkan duduk, hari ke-3 jalan-jalan, dan hari ke 4 atau 5 sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi di atas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan, nifas, dan sembuhnya luka-luka.
2. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran, dan buah-buahan.
3. Miksi
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi m.sphincter ani selama persalinan, juga oleh karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama persalinan. Bila kandung kemih penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan klisma.
4. Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi berak keras dapat diberikan obat laksans per oral atau per rektal. Jika masih belum bisa dilakukan klisma.
5. Perawatan payudara (mammae)
Perawatan mamma telah dimulai sejak wanita hamil supaya putting susu lemas, tidak keras, dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara:
- Pembalutan mamma sampai tertekan
- Pemberian obat estrogen untuk supresi LH seperti tablet lynoral dan parlodel.
Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untuk kesehatan bayinya.
6. Laktasi
Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamma yaitu:
- Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli, dan jaringan lemak bertambah
- Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum, berwarna kuning-putih susu.
- Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, di mana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
- Setelah persalinan pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang. Maka timbul pengaruh hormok laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Di samping itu, pengaruh oksitosin menyebabkan mio-epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalinan.
Bila bayi mulai disusui, isapan pada putting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofise. Produksi air susu ibu (ASI) akan lebih banyak. Sebagai efek positif adalah involusi uteri akan lebih sempurna. Di samping ASI merupakan makanan utama bayi yang tidak ada bandingnya, menyusukan bayi sangat baik untuk menjelmakan rasa kasih sayang antara ibu dan anaknya. Air susu ibu adalah untuk anak ibu. Ibu dan bayi dapat ditempatkan dalam satu kamar (rooming in) atau pada tempat yang terpisah.
Keuntungan roming in:
- Mudah menyusukan bayi
- Setiap saat selalu ada kontak antara ibu dan bayi
- Sedini mungkin ibu telah belajar mengurus bayinya.
7. Cuti hamil dan bersalin
Menurut undang-undang, bagi wanita pekerja berhak mengambil cuti hamil dan bersalin selama 3 bula, yaitu 1 bulan sebelum bersalin ditambah 2 bulan setelah persalinan.
8. Pemeriksaan pasca persalinan
Di Indonesia ada kebiasaan atau kepercayaan bahwa wanita bersalin baru boleh keluar rumah setelah habis nifas yaitu 40 hari. Bagi wanita dengan persalinan normal, hal ini baik dan dilakukan pemeriksaan kembali 6 minggu setelah persalinan. Namun, bagi wanita dengan persalinan luar biasa harus kembali untuk kontrol seminggu kemudian.
Pemeriksaan post natal antara lain meliputi:
a. Pemeriksaan umum: tekanan darah, nadi, keluhan, dan sebagainya.
b. Keadaan umum; suhu badan, selera makan, dan lain-lain
c. Payudara; ASI, putting susu
d. Dinding perut, perineum, kandung kemih, rektum
e. Sekret yang keluar, misalnya lochia, fluor albus.
9. Nasehat untuk ibu postn¬atal
a. Fisioterapi postnatal sangat baik bila diberikan
b. Sebaiknya bayi disusui
c. Kerjakan gimnastik sehabis bersalin
d. Untuk kesehatan ibu, bayi, dan keluarga sebaiknya melakukan KB untuk menjarangkan anak
e. Bawalah bayi anda untuk memperoleh imunisasi
NIFAS
Proses yang terpenting pada periode kala nifas (masa setelah melahirkan) adalah terjadinya perubahan fisik dan laktasi (menyusui). Konsep perawatan pasca-melahirkan yang dikembangkan pada persalinan normal sebenarnya mengikuti pola tradisional yang dikemas secara modern yaitu mobilisasi dini, rooming in, pemberian ASI. Pola ini melalui penelitian terbukti mempunyai keuntungan bagi ibu maupun bayinya. Dalam pengawasan setelah melahirkan, dokter yang merawat ibu akan datang setiap hari atau setiap saat memberikan petunjuk perawatan.
Pemeriksaan setelah kala nifas tidak banyak mendapatkan perhatian ibu karena sudah merasa baik dan selanjutnya semua berjalan lancar. Pemeriksaan setelah kala nifas sebenarnya sangat penting dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang berharga dari bidan atau dokter yang menolong persalinan itu. Diantara masalah penting tersebut adalah melakukan evaluasi secara menyeluruh tentang alat kelamin dan terutama mulut rahim yang mungkin masih luka, akibat proses persalinan. Penyembuhan yang menyebabkan pembentukan jaringan parut, dapat menyebabkan mulut rahim kaku, dan menyulitkan persalinan yang akan datang. Selian itu ibu juga mendapatkan kesempatan untuk membicarakan tentang metode KB, sebelum merencanakan kehamilan, karena pada beberapa ibu kehamilan dapat terjadi tanpa didahului menstruasi; pengambilan Pap smear untuk melakukan evaluasi kemungkinan berakhir.
Asuhan masa nifas sangat diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik pada ibu maupun bayinya. Diketahui bahwa 60% angka kematian ibu akibat kehamilan, terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.
Dengan melihat tingginya angka kematian ibu pada masa nifas, maka perlu mempelajari lebih lanjut tentang manajemen kebidanan pada ibu nifas sehingga dapat:
1. Melakukan pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi pada ibu
2. Melakukan rujukan ibu ke tenaga ahli bila diperlukan
3. Memberikan dukungan bagi ibu dan keluarga dalam penyesuaian terhadap anggota keluarga baru.
4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
5. Memberikan pelayanan keluarga berencana.
Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas adalah 6-8 minggu.
Nifas dibagi ke dalam 3 periode:
1. Puerperium dini, yaitu kepulihan di mana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kendugan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu:
Pada masa ini terjadinya perubahan-perubahan psikologis yaitu :
a. Berat badan ibu mengalami penurunan
b. Tiap penderita disuruh kencing 6 jam post partum
c. Biasanya ibu mengalami kesulitan defekasi
d. Datang haid kembali ibu yang tidak menyusui bayinya, haidnya datangnya lebih cepat dari ibu yang menyusui bayinya .
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dimana waktu yang digunakan untuk memulihkan kembali alat kandungan selama 40 hari (6 minggu). Walaupun pada prinsipnya alat kandungan pulih kembali setelah 6 minggu akan tetapi alat genetalia/alat reproduksi baru pulih kembali seperti sebelum hamil selama 12 minggu.
Perubahan-perubahan Yang Terjadi Pada Masa Nifas
Perubahan-perubahan yang terjadi pada alat genetalia internal :
1. Involusi Rahim
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan rektrasi otot-ototnya, fundus uteri 3 jari bawah pusat. Selama 2 hari berikutnya berkurang. Uterus mengecil dengan cepat sehingga pada hari ke 10 tidak teraba lagi dari luar. Setelah 6 minggu tercapai ukuran yang normal seperti sebelum hamil. Setelah plasenta lahir berat janin 1000 gram, seminggu kemudian menjadi 500 gram, dua minggu kemudian 375 gram dan pada akhir purperium 50 gram. Involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih kecil, pelepasan plasenta dan selaput janin dari dinding rahim terjadi pada stratum spongiosum bagian atas. Sedangkan lapisan bawah yang berhubungan dengan lapisan otot terpelihara dengan baik yang nekrosis dikeluarkan dengan lochea, sedangkan yang sehat menghasilkan endometrium yang baru, epitalisasi siap dalam 10 hari, kecuali pada tempat plasenta dimana epitalisasi memakan waktu 3 minggu.
2. Involusi Tempat Plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata dan kita-kita sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka plasenta mengecil, pada akhir minggu ke 2 hanya 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm.
Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak permbuluh dasar besar yang tersumbat oleh trobus. Biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut. Endometrium akan tumbuh dari pinggir luka dan juga dari sisi-sisi kelenjar pada dasar luka.
3. Perubahan Pembuluh Darah Rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai pembuluh-pembuluh darah yang besar dan jumlahnya banyak, tetapi karena persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak, maka arteri harus mengecil lagi dalam nifas.
4. Perubahan Pada Servik dan Vagina
Beberapa hari setelah persalinan, OUE dapat dilakui oleh 2 jari, pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 2 jari, dan lingkaran ritraksi berhubungan dengan bagian atas dari canalis servikalis. Pada serviks terbentuk otot-otot sel yang baru. Vagina yang sangat direnggang pada saat persalinan, lambat laun mencapai ukuran yang normal. Pada minggu ke-3 post partum rugae mulai tampak kembali.
5. Dinding Perut dan Peritonium
Setelah persalinan, dinding perut longgar karena diregang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu.
6. Saluran Kencing
Dinding kandung kencing memperlihatkan oedem dan hyperemi. Kandung kencing dalam purperium kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah sehingga kandung kencing masih tinggal urine residual dilatasi ureter dan pyelum, normal kembali dalam waktu 2 minggu.
7. Laktasi
Masing-masing buah dada terdiri dari 15-24 lobus yang terletak radia air dan terpisah satu sama lain oleh jaringan lemak. Tiap lobus terdiri dari 20-40 lobulus, tiap lobulus terdiri dari 10-100 alveoli dan dihubungkan dengan sistem duktus, dalam alveoli terdapat kelenjar yang menghasilkan air susu dan miocpiletelium. Pada hari kedua buah dada belum mengandung air susu, melainkan colostrum yang dapat dikeluarkan dengan memijat aerola mamae lobus posterior hypofisis.
Mengeluarkan oksitosin yang merangsang mengeluarkan air susu. Pengeluaran air susu merupakan refleks yang timbul akibat rangsangan penghisapan air susu melalui putting susu oleh bayi.
Rangsangan ini menuju ke hypofisis dan menghasilkan oxcytocin yang menyebabkan buah dada mengeluarkan air susu. Pada hari ke-3 post partum buah dada menjadi besar, keras dan nyeri. Ini menandai sekresi air susu dan kalau areola mamae dipijat, keluarlah cairan putih dari putting susu.
Beberapa keadaan yang melarang ibu menyusukan bayinya nya :
- Mastitis parulenta
- Penyakit menular pada ibu
- Keadaan yang kurang baik
- Intoksikasi anak
- Anak prematur atau sakit keras.
