NIFAS

Senin, 15 Maret 2010
Posted by Ibnu Syahidun
Sekilas Tentang Nifas

Proses yang terpenting pada periode kala nifas (masa setelah melahirkan) adalah terjadinya perubahan fisik dan laktasi (menyusui). Konsep perawatan pasca-melahirkan yang dikembangkan pada persalinan normal sebenarnya mengikuti pola tradisional yang dikemas secara modern yaitu mobilisasi dini, rooming in, pemberian ASI. Pola ini melalui penelitian terbukti mempunyai keuntungan bagi ibu maupun bayinya. Dalam pengawasan setelah melahirkan, dokter yang merawat ibu akan datang setiap hari atau setiap saat memberikan petunjuk perawatan.

Pemeriksaan setelah kala nifas tidak banyak mendapatkan perhatian ibu karena sudah merasa baik dan selanjutnya semua berjalan lancar. Pemeriksaan setelah kala nifas sebenarnya sangat penting dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang berharga dari bidan atau dokter yang menolong persalinan itu. Diantara masalah penting tersebut adalah melakukan evaluasi secara menyeluruh tentang alat kelamin dan terutama mulut rahim yang mungkin masih luka, akibat proses persalinan. Penyembuhan yang menyebabkan pembentukan jaringan parut, dapat menyebabkan mulut rahim kaku, dan menyulitkan persalinan yang akan datang. Selian itu ibu juga mendapatkan kesempatan untuk membicarakan tentang metode KB, sebelum merencanakan kehamilan, karena pada beberapa ibu kehamilan dapat terjadi tanpa didahului menstruasi; pengambilan Pap smear untuk melakukan evaluasi kemungkinan berakhir.

Asuhan masa nifas sangat diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik pada ibu maupun bayinya. Diketahui bahwa 60% angka kematian ibu akibat kehamilan, terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.

Dengan melihat tingginya angka kematian ibu pada masa nifas, maka perlu mempelajari lebih lanjut tentang manajemen kebidanan pada ibu nifas sehingga dapat:
1. Melakukan pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi pada ibu
2. Melakukan rujukan ibu ke tenaga ahli bila diperlukan
3. Memberikan dukungan bagi ibu dan keluarga dalam penyesuaian terhadap anggota keluarga baru.
4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
5. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

Pengertian Masa Nifas

Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas adalah 6-8 minggu.

Nifas dibagi ke dalam 3 periode:
1. Puerperium dini, yaitu kepulihan di mana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kendugan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu:
Pada masa ini terjadinya perubahan-perubahan psikologis yaitu :
a. Berat badan ibu mengalami penurunan
b. Tiap penderita disuruh kencing 6 jam post partum
c. Biasanya ibu mengalami kesulitan defekasi
d. Datang haid kembali ibu yang tidak menyusui bayinya, haidnya datangnya lebih cepat dari ibu yang menyusui bayinya .

Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dimana waktu yang digunakan untuk memulihkan kembali alat kandungan selama 40 hari (6 minggu). Walaupun pada prinsipnya alat kandungan pulih kembali setelah 6 minggu akan tetapi alat genetalia/alat reproduksi baru pulih kembali seperti sebelum hamil selama 12 minggu.

Perubahan-perubahan Yang Terjadi Pada Masa Nifas

Perubahan-perubahan yang terjadi pada alat genetalia internal :

1. Involusi Rahim
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan rektrasi otot-ototnya, fundus uteri  3 jari bawah pusat. Selama 2 hari berikutnya berkurang. Uterus mengecil dengan cepat sehingga pada hari ke 10 tidak teraba lagi dari luar. Setelah 6 minggu tercapai ukuran yang normal seperti sebelum hamil. Setelah plasenta lahir berat janin 1000 gram, seminggu kemudian menjadi 500 gram, dua minggu kemudian 375 gram dan pada akhir purperium 50 gram. Involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih kecil, pelepasan plasenta dan selaput janin dari dinding rahim terjadi pada stratum spongiosum bagian atas. Sedangkan lapisan bawah yang berhubungan dengan lapisan otot terpelihara dengan baik yang nekrosis dikeluarkan dengan lochea, sedangkan yang sehat menghasilkan endometrium yang baru, epitalisasi siap dalam 10 hari, kecuali pada tempat plasenta dimana epitalisasi memakan waktu 3 minggu.

2. Involusi Tempat Plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata dan kita-kita sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka plasenta mengecil, pada akhir minggu ke 2 hanya 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm.

Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak permbuluh dasar besar yang tersumbat oleh trobus. Biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut. Endometrium akan tumbuh dari pinggir luka dan juga dari sisi-sisi kelenjar pada dasar luka.

3. Perubahan Pembuluh Darah Rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai pembuluh-pembuluh darah yang besar dan jumlahnya banyak, tetapi karena persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak, maka arteri harus mengecil lagi dalam nifas.

4. Perubahan Pada Servik dan Vagina
Beberapa hari setelah persalinan, OUE dapat dilakui oleh 2 jari, pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 2 jari, dan lingkaran ritraksi berhubungan dengan bagian atas dari canalis servikalis. Pada serviks terbentuk otot-otot sel yang baru. Vagina yang sangat direnggang pada saat persalinan, lambat laun mencapai ukuran yang normal. Pada minggu ke-3 post partum rugae mulai tampak kembali.

5. Dinding Perut dan Peritonium
Setelah persalinan, dinding perut longgar karena diregang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu.

6. Saluran Kencing
Dinding kandung kencing memperlihatkan oedem dan hyperemi. Kandung kencing dalam purperium kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah sehingga kandung kencing masih tinggal urine residual dilatasi ureter dan pyelum, normal kembali dalam waktu 2 minggu.

7. Laktasi
Masing-masing buah dada terdiri dari 15-24 lobus yang terletak radia air dan terpisah satu sama lain oleh jaringan lemak. Tiap lobus terdiri dari 20-40 lobulus, tiap lobulus terdiri dari 10-100 alveoli dan dihubungkan dengan sistem duktus, dalam alveoli terdapat kelenjar yang menghasilkan air susu dan miocpiletelium. Pada hari kedua buah dada belum mengandung air susu, melainkan colostrum yang dapat dikeluarkan dengan memijat aerola mamae lobus posterior hypofisis.

Mengeluarkan oksitosin yang merangsang mengeluarkan air susu. Pengeluaran air susu merupakan refleks yang timbul akibat rangsangan penghisapan air susu melalui putting susu oleh bayi.

Rangsangan ini menuju ke hypofisis dan menghasilkan oxcytocin yang menyebabkan buah dada mengeluarkan air susu. Pada hari ke-3 post partum buah dada menjadi besar, keras dan nyeri. Ini menandai sekresi air susu dan kalau areola mamae dipijat, keluarlah cairan putih dari putting susu.

Beberapa keadaan yang melarang ibu menyusukan bayinya nya :
  • Mastitis parulenta
  • Penyakit menular pada ibu
  • Keadaan yang kurang baik
  • Intoksikasi anak
  • Anak prematur atau sakit keras.