PERSALINAN
Kamis, 11 Maret 2010Posted by
Ibnu Syahidun
Sekilas Tentang Persalinan (Ibu Bersalin/Melahirkan)
Persalinan dan kelahiran, bagi banyak wanita, merupakan aspek-aspek yang paling mendebarkan. Seperti perubahan fisik dari kehamilan itu sendiri, pemahaman akan proses-proses yang terlibat membantu mengurangi kecemasan. Wanita yang hamil 9 bulan siap untuk melahirkan, dan agar berpartisipasi penuh dalam pengalaman itu dia semestinya menjadi tahu dengan semua kemungkinan yang ada. Tetapi pengalaman setiap wanita secara hakiki bersifat pribadi dan individual: apakah dia melahirkan di rumah atau di rumah sakit, dan dengan atau tanpa obat-obatan, dan dengan atau tanpa kehadiran pasangannya atau teman pada akhirnya dia sendiri yang harus memutuskan (Hardjana. A.M, 2000: 326).
Dalam menghadapi persalinan seorang calon ibu dapat mempercayakan dirinya pada bidan, dokter umum, dokter spesialis obstetri dan genikologi, bahkan seorang dukun untuk pemeriksaan secara teratur, melakukan pengawasan hamil sekitar 12-14 kali sampai pada persalinan. Pertemuan konsultasi dan menyampaikan keluhan, menciptakan hubungan saling mengenal antara calon ibu dengan bidan atau dokter yang akan menolongnya. Kedatangannya sudah mencerminkan adanya “informed consent” artinya telah menerima informasi dan dapat menyetujui bahwa bidan atau dokter itulah yang akan menolong persalinannya (Manuaba, 1999: 136).
Perkembangan kejiwaan hamil dan persalinan dapat mengalami beberapa perubahan. Pada kehamilan yang diharapkan, mendorong kegairahan keluarga dan mengharapkan tidak terjadi apapun selama hamil. Kekuatiran terjadi gugur kandung dapat menghantui keluarga yang sangat mengharapkan hadirnya buah cita dalam rumah tangga. Sebagai akibat kekuatiran tersebut dapat mengganggu kehidupan seks sehinga libido-nya berkurang. Dalam keadaan tertentu dengan riwayat kehamilan yang buruk bahkan dokter akan melarang hubungan seks.
Menjelang persalinan sebagian besar ibu merasa takut menghadapi persalinannya apalagi bagi yang untuk pertama kali. Di sinilah pembinaan hubungan antara penolong dan ibu saling mendukung dengan penuh kesabaran sehingga persalinan dapat berjalan dengan lancar
Sejumlah efek yang mungkin menciderai wanita dari melahirkan yang lama, menyakitkan, dan berbahaya sekarang diakui dengan baik. Tetapi hal ini diperdebatkan bahwa beberapa metode melahirkan yang umum digunakan dapat mendatangkan pengaruh yang abadi dan menggangu pada anak. Ada tiga penganjur utama yang menawarkan pendekatan baru bagi kelahiran: R.D. Laing, psikolog asal Scotlandia; Frederick Leboyer, ahli kebidanan Prancis; dan seorang psikoanalisis Amarika Elisabeth Fehr. Ketiganya telah menaruh perhatian terutama kesejahteraan anak dan menganggap bahwa tidak hanya memperhatikannya waktunya di dalam rahim, tetapi juga kedatangannya ke dalam dunia. Kesan-kesan awal dikatakan amat penting bagi perkembangannya di masa depan. R.D. Laing berpendapat bahwa pemotongan tali pusat yang terlalu segera merupakan suatu penyebab besar keterkejutan yang tidak perlu bagi bayi, yang dapat dihindari dengan membiarkan tali pusat itu tidak dipotong sampai secara kodrati menghentikan fungsinya. Menurut Laing, jika tali pusat dibiarkan 4 atau 5 menit sampai sirkulasi bayi itu sendiri mengambil alih, prosesnya lebih alamiah dan tidak traumatik (Hardjana. A.M, 2000).
Fokus utama asuhan persalinan normal adalah mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan suatu pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan menangani komplikasi, menjadi mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi baru lahir akan mengurangi kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir.
Perubahan paradigma menunggu terjadinya dan menangani komplikasi menjadi pencegahan terjadinya komplikasi diakui dapat membawa perbaikan kesehatan kaum ibu di Indonesia. Penyesuaian ini sangat penting dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir, karena sebagian besar persalinan di Indonesia masih terjadi di tingkat pelayanan kesehatan primer di mana tingkat keterampilan dan pengetahuan petugas kesehatan di fasilitas pelayanan tersebut masih belum memadai. Deteksi dini dan pencegahan komplikasi dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir. jika semua tenaga penolong persalinan dilatih agar mampu untuk mencegah atau mendeteksi dini komplikasi yang mungkin terjadi, menerapkan asuhan persalinan secara tepat guna dan waktu, baik sebelum atau saat masalah terjadi, dan segera melakukan rujukan saat kondisi ibu masih optimal, maka para ibu dan bayi baru lahir akan terhindar dari ancaman kesakitan dan kematian.
Tujuan asuhan persalinan normal adalah mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terjadi integrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat optimal. Dengan pendekatan ini berarti bahwa upaya asuhan persalinan normal harus didukung oleh adanya alasan yang kuat dan berbagai bukti ilmiah yang dapat menunjukkan adanya manfaat apabila diaplikasikan pada setiap proses persalinan (Ikatan Bidan Indonesia, 2004).
Pengertian Persalinan
Persalinan adalah di mana bayi, placenta dan selaput ketuban keluar dari rahim ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37-42 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Sedangkan persalinan normal adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan, disusul dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh bayi (Ikatan Bidan Indonesia, 2004).
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, dkk, 2002: 100).
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.
Ada beberapa istilah pada masalah partus, yaitu:
1. Menurut cara persalinan:
Menurut Manuaba (1999), bentuk-bentuk persalinan dapat digolongkan menjadi :
Sebab-sebab Yang Menimbulkan Persalinan
Sebab-sebab terjadinya persalinan belum diketahui dengan jelas, ada banyak faktor yang memegang peranan penting sehingga terjadi persalinan. Di bawah ini ada beberapa teori tentang penyebab timbulnya persalinan, yaitu:
1. Teori penurunan hormon
1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron turun.
2. Teori placenta menjadi tua
Akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
3. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero-placenter.
4. Teori iritasi mekanik
Di belakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan akan timbul kontraksi.
5. Induksi partus
Ganggang laminaria: Beberapa laminaria dimasukkan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser.
Amniotomi: pemecahan ketuban
Oksitosin drips: pemerbian oksitosin menurut tetesan per infus.
Tanda-tanda Permulan Persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki “bulannya” atau “minggunya” atau “harinya” yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor), dengan tanda-tanda sebagai berikut:
Tanda-tanda In-partu dan faktor-faktor yang berperan dalam persalinan adalah sebagai berikut:
Tanda-tanda In-Partu
1. Power (kekuatan mendorong janin ke luar)
• His (kontraksi uterus)
• Kontraksi otot-otot dinding perut
• Kontraksi diafragma
• Dan ligmentous action terutama lig. Rotundum
2. Faktor janin
3. Faktor jalan lahir
Pembagian Tahap Persalinan
Partus dibagi menjadi 4 kala. Pada kal I serviks membuka sampai terjadi pembukaa 10 cm. Kala I dinamakan pula kala pembukaan. Kala II disebut pula kala pengeluaran, oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin didorong keluar sampai lahir. Dalam Kala III atau kala uri placenta terlepas dari dinding uters dan dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam. Dalam kala itu diamat-amati apakah tidak terjadi perdarahan post partum.
KALA I
Ibu dapat dinyatakan partus dimulai bila timbul his dan wanita tersebut mengeluarkan lendir yang bercampur darah (bloody show) lendir bercampur darah ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka atau mendatar. Sedang darah berasal dari pembuluh kapiler yang berada disekitar kanalis servikalis pecah karena pergeseran ketika serviks membuka.
Proses pembukaan servik sebagai akibat his terbagi dalam 2 fase, yaitu :
Ketuban akan pecah dengan sendirinya ketika pembukaan hampir lengkap atau bahkan sudah pembukaan lengkap. Apabila ketuban telah pecah sebelum pembukaan 5 cm maka disebut ketuban pecah dini.
Kala I dianggap selesai apabila pembukaan servik telah lengkap 10 cm pada primi gravida kala I berlangsung kurang lebih 15 jam sedangkan pada multi para kurang lebih 7 jam.
KALA II
Pada kala II his menjadi lebih kuat dan cepat, kurang lebih 2 sampai 3 menit sekali karena biasanya dalam hal ini kepala janin sudah masuk rongga panggul maka pada saat his dirasakan tekanan pada otot dasar panggul, yang secara reflektoris menimbulkan rasa ingin mengedan. Karena perinium mulai meregang dan menjadi lebar dengan anus membuka, labia membuka, dan tidak lama kemudian kepala tampak divulva pada waktu his, bila dasar penggul sudah lebih berelaksasi kepala janin tidak masuk lagi di luar his dan dengan sympisis dan lahirlah dahi, mata, muka dan dagu melewati perinium setelah ibu tarik napas sejenak, pada saat his ibu mengedan untuk mengeluarkan bayi seluruhnya. Pada primi gravida kala II terjadi selama kurang lebih1,5 jam dan pada multi para berlangsung kurang lebih setengah jam.
KALA III
Setelah bayi lahir dilakukan managemen aktif kala III dimana ibu diberi injeksi oksitosin 10 unit, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di tas pusat, lakukan peregangan tali pusat terkendali apabila keluar darah tiba-tiba pertanda plasenta telah terlepas dari dinding rahim hal ini terjadi dalam waktu 6-15 menit setelah bayi lahir.
KALA IV
Pada kala IV ini perlu untuk mengamati apakah ada perdarahan pasca plasenta. Kala IV yaitu dimana 2 jam setelah plasenta lahir lengkap hal ini dimaksudkan agar penolong persalinan masih mendampingi ibu selesai bersalin. Hal tersebut diharapkan jika ada perdarahan pasca persalinan dapat segera tertanggulangi.
Sebelum meninggalkan ibu setelah bersalin ada 7 yang harus diperhatikan yaitu :
1. Kontraksi uterus harus baik
2. Tidak ada perdarahan dari vagina atau perdarahan dari alat genetika lainnya.
3. Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap
4. Kandung kemih harus kosong
5. Luka pada premium terawat dengan baik dan tidak ada hematoma
6. Baik dalam keadaan baik
7. Ibu dalam keadaan bik
Tanda-tanda vital ibu dalam batas normal tidak ada pengaduan ibu sakit kepala atau ada rasa mual dan ingin muntah. Dengan adanya frekuensi nadi yang menurun dengan volume yang baik merupakan suatu gejala yang baik.
Persalinan dan kelahiran, bagi banyak wanita, merupakan aspek-aspek yang paling mendebarkan. Seperti perubahan fisik dari kehamilan itu sendiri, pemahaman akan proses-proses yang terlibat membantu mengurangi kecemasan. Wanita yang hamil 9 bulan siap untuk melahirkan, dan agar berpartisipasi penuh dalam pengalaman itu dia semestinya menjadi tahu dengan semua kemungkinan yang ada. Tetapi pengalaman setiap wanita secara hakiki bersifat pribadi dan individual: apakah dia melahirkan di rumah atau di rumah sakit, dan dengan atau tanpa obat-obatan, dan dengan atau tanpa kehadiran pasangannya atau teman pada akhirnya dia sendiri yang harus memutuskan (Hardjana. A.M, 2000: 326).
Dalam menghadapi persalinan seorang calon ibu dapat mempercayakan dirinya pada bidan, dokter umum, dokter spesialis obstetri dan genikologi, bahkan seorang dukun untuk pemeriksaan secara teratur, melakukan pengawasan hamil sekitar 12-14 kali sampai pada persalinan. Pertemuan konsultasi dan menyampaikan keluhan, menciptakan hubungan saling mengenal antara calon ibu dengan bidan atau dokter yang akan menolongnya. Kedatangannya sudah mencerminkan adanya “informed consent” artinya telah menerima informasi dan dapat menyetujui bahwa bidan atau dokter itulah yang akan menolong persalinannya (Manuaba, 1999: 136).
Perkembangan kejiwaan hamil dan persalinan dapat mengalami beberapa perubahan. Pada kehamilan yang diharapkan, mendorong kegairahan keluarga dan mengharapkan tidak terjadi apapun selama hamil. Kekuatiran terjadi gugur kandung dapat menghantui keluarga yang sangat mengharapkan hadirnya buah cita dalam rumah tangga. Sebagai akibat kekuatiran tersebut dapat mengganggu kehidupan seks sehinga libido-nya berkurang. Dalam keadaan tertentu dengan riwayat kehamilan yang buruk bahkan dokter akan melarang hubungan seks.
Menjelang persalinan sebagian besar ibu merasa takut menghadapi persalinannya apalagi bagi yang untuk pertama kali. Di sinilah pembinaan hubungan antara penolong dan ibu saling mendukung dengan penuh kesabaran sehingga persalinan dapat berjalan dengan lancar
Sejumlah efek yang mungkin menciderai wanita dari melahirkan yang lama, menyakitkan, dan berbahaya sekarang diakui dengan baik. Tetapi hal ini diperdebatkan bahwa beberapa metode melahirkan yang umum digunakan dapat mendatangkan pengaruh yang abadi dan menggangu pada anak. Ada tiga penganjur utama yang menawarkan pendekatan baru bagi kelahiran: R.D. Laing, psikolog asal Scotlandia; Frederick Leboyer, ahli kebidanan Prancis; dan seorang psikoanalisis Amarika Elisabeth Fehr. Ketiganya telah menaruh perhatian terutama kesejahteraan anak dan menganggap bahwa tidak hanya memperhatikannya waktunya di dalam rahim, tetapi juga kedatangannya ke dalam dunia. Kesan-kesan awal dikatakan amat penting bagi perkembangannya di masa depan. R.D. Laing berpendapat bahwa pemotongan tali pusat yang terlalu segera merupakan suatu penyebab besar keterkejutan yang tidak perlu bagi bayi, yang dapat dihindari dengan membiarkan tali pusat itu tidak dipotong sampai secara kodrati menghentikan fungsinya. Menurut Laing, jika tali pusat dibiarkan 4 atau 5 menit sampai sirkulasi bayi itu sendiri mengambil alih, prosesnya lebih alamiah dan tidak traumatik (Hardjana. A.M, 2000).
Fokus utama asuhan persalinan normal adalah mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan suatu pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan menangani komplikasi, menjadi mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi baru lahir akan mengurangi kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir.
Perubahan paradigma menunggu terjadinya dan menangani komplikasi menjadi pencegahan terjadinya komplikasi diakui dapat membawa perbaikan kesehatan kaum ibu di Indonesia. Penyesuaian ini sangat penting dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir, karena sebagian besar persalinan di Indonesia masih terjadi di tingkat pelayanan kesehatan primer di mana tingkat keterampilan dan pengetahuan petugas kesehatan di fasilitas pelayanan tersebut masih belum memadai. Deteksi dini dan pencegahan komplikasi dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir. jika semua tenaga penolong persalinan dilatih agar mampu untuk mencegah atau mendeteksi dini komplikasi yang mungkin terjadi, menerapkan asuhan persalinan secara tepat guna dan waktu, baik sebelum atau saat masalah terjadi, dan segera melakukan rujukan saat kondisi ibu masih optimal, maka para ibu dan bayi baru lahir akan terhindar dari ancaman kesakitan dan kematian.
Tujuan asuhan persalinan normal adalah mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terjadi integrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat optimal. Dengan pendekatan ini berarti bahwa upaya asuhan persalinan normal harus didukung oleh adanya alasan yang kuat dan berbagai bukti ilmiah yang dapat menunjukkan adanya manfaat apabila diaplikasikan pada setiap proses persalinan (Ikatan Bidan Indonesia, 2004).
Pengertian Persalinan
Persalinan adalah di mana bayi, placenta dan selaput ketuban keluar dari rahim ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37-42 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Sedangkan persalinan normal adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan, disusul dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh bayi (Ikatan Bidan Indonesia, 2004).
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, dkk, 2002: 100).
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.
Ada beberapa istilah pada masalah partus, yaitu:
1. Menurut cara persalinan:
- Partus biasa (normal), disebut juga partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada LBK dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu danbayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
- Partus luas biasa (abnormal) adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea.
- Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat hidup (viable) – berat janin di bawah 1000 g – tua kehamilan di bawah 28 minggu.
- Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 28-36 minggu, janin dapat hidup tetapi prematur, berat janin antara 1.000-2.500 g.
- Partus maturus atau a term (cukup bulan) adalah partus pada kehamilan 37-40 minggu, janin matur, berat badan di atas 2.500 g.
- Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang ditaksir, janin disebut post matur.
- Partus presipatatus adalah partus yang berlangsung cepat, mungkin di kamar mandi, di atas beca dan sebagainya.
- Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya disproporsi sefalopelvik.
- Abortus adalah penghentian atau pengeluaran hasil konsepsi pada kehamilan 16 minggu atau sebelum plasentasi selesai.
- Partus imaturus adalah penghentian kehamilan sebelum janin viable atau berat janin kurang dari 1000 g atau kehamilan di bawah 28 minggu.
- Gravida adalah seorang wanita yang sedang hamil
- Primigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali.
- Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable)
- Nullipara adalah seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi viable
- Primipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama kali.
- Multipara atau pleuripara dalah wanita yang pernah melahirkan bayi viable beberapa kali (sampai 5 kali)
- Grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati.
Menurut Manuaba (1999), bentuk-bentuk persalinan dapat digolongkan menjadi :
- Persalinan spontan, yaitu bila persalinan berlangsung dengan tenaga sendiri.
- Persalinan buatan, yaitu bila persalinan dengan rangsangan sehingga terdapat kekuatan untuk persalinan.
- Persalinan anjuran, yaitu persalinan yang paling ideal karena tidak memerlukan bantuan apapun dan mempunyai trauma persalinan yang paling ringan sehingga kualitas sumber daya manusia dapat terjamin
Sebab-sebab Yang Menimbulkan Persalinan
Sebab-sebab terjadinya persalinan belum diketahui dengan jelas, ada banyak faktor yang memegang peranan penting sehingga terjadi persalinan. Di bawah ini ada beberapa teori tentang penyebab timbulnya persalinan, yaitu:
1. Teori penurunan hormon
1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron turun.
2. Teori placenta menjadi tua
Akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
3. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero-placenter.
4. Teori iritasi mekanik
Di belakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan akan timbul kontraksi.
5. Induksi partus
Ganggang laminaria: Beberapa laminaria dimasukkan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser.
Amniotomi: pemecahan ketuban
Oksitosin drips: pemerbian oksitosin menurut tetesan per infus.
Tanda-tanda Permulan Persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki “bulannya” atau “minggunya” atau “harinya” yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor), dengan tanda-tanda sebagai berikut:
- Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida.
- Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
- Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
- Perasaan sakit di perut dan dipinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang-kadang disebut “false labor pains”
- Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody show).
Tanda-tanda In-partu dan faktor-faktor yang berperan dalam persalinan adalah sebagai berikut:
Tanda-tanda In-Partu
- Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur.
- Keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.
- Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya
- Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan pembukaan telah ada.
1. Power (kekuatan mendorong janin ke luar)
• His (kontraksi uterus)
• Kontraksi otot-otot dinding perut
• Kontraksi diafragma
• Dan ligmentous action terutama lig. Rotundum
2. Faktor janin
3. Faktor jalan lahir
Pembagian Tahap Persalinan
Partus dibagi menjadi 4 kala. Pada kal I serviks membuka sampai terjadi pembukaa 10 cm. Kala I dinamakan pula kala pembukaan. Kala II disebut pula kala pengeluaran, oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin didorong keluar sampai lahir. Dalam Kala III atau kala uri placenta terlepas dari dinding uters dan dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam. Dalam kala itu diamat-amati apakah tidak terjadi perdarahan post partum.
KALA I
Ibu dapat dinyatakan partus dimulai bila timbul his dan wanita tersebut mengeluarkan lendir yang bercampur darah (bloody show) lendir bercampur darah ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka atau mendatar. Sedang darah berasal dari pembuluh kapiler yang berada disekitar kanalis servikalis pecah karena pergeseran ketika serviks membuka.
Proses pembukaan servik sebagai akibat his terbagi dalam 2 fase, yaitu :
- Fase laten : berlangsung selama 8 jam, pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm
- Fase aktif : terbagi dalam 3 fase, yaitu :
- Fase akselerasi
- Fase dilatasi maksimal
- Fase deselirasi
Ketuban akan pecah dengan sendirinya ketika pembukaan hampir lengkap atau bahkan sudah pembukaan lengkap. Apabila ketuban telah pecah sebelum pembukaan 5 cm maka disebut ketuban pecah dini.
Kala I dianggap selesai apabila pembukaan servik telah lengkap 10 cm pada primi gravida kala I berlangsung kurang lebih 15 jam sedangkan pada multi para kurang lebih 7 jam.
KALA II
Pada kala II his menjadi lebih kuat dan cepat, kurang lebih 2 sampai 3 menit sekali karena biasanya dalam hal ini kepala janin sudah masuk rongga panggul maka pada saat his dirasakan tekanan pada otot dasar panggul, yang secara reflektoris menimbulkan rasa ingin mengedan. Karena perinium mulai meregang dan menjadi lebar dengan anus membuka, labia membuka, dan tidak lama kemudian kepala tampak divulva pada waktu his, bila dasar penggul sudah lebih berelaksasi kepala janin tidak masuk lagi di luar his dan dengan sympisis dan lahirlah dahi, mata, muka dan dagu melewati perinium setelah ibu tarik napas sejenak, pada saat his ibu mengedan untuk mengeluarkan bayi seluruhnya. Pada primi gravida kala II terjadi selama kurang lebih1,5 jam dan pada multi para berlangsung kurang lebih setengah jam.
KALA III
Setelah bayi lahir dilakukan managemen aktif kala III dimana ibu diberi injeksi oksitosin 10 unit, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di tas pusat, lakukan peregangan tali pusat terkendali apabila keluar darah tiba-tiba pertanda plasenta telah terlepas dari dinding rahim hal ini terjadi dalam waktu 6-15 menit setelah bayi lahir.
KALA IV
Pada kala IV ini perlu untuk mengamati apakah ada perdarahan pasca plasenta. Kala IV yaitu dimana 2 jam setelah plasenta lahir lengkap hal ini dimaksudkan agar penolong persalinan masih mendampingi ibu selesai bersalin. Hal tersebut diharapkan jika ada perdarahan pasca persalinan dapat segera tertanggulangi.
Sebelum meninggalkan ibu setelah bersalin ada 7 yang harus diperhatikan yaitu :
1. Kontraksi uterus harus baik
2. Tidak ada perdarahan dari vagina atau perdarahan dari alat genetika lainnya.
3. Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap
4. Kandung kemih harus kosong
5. Luka pada premium terawat dengan baik dan tidak ada hematoma
6. Baik dalam keadaan baik
7. Ibu dalam keadaan bik
Tanda-tanda vital ibu dalam batas normal tidak ada pengaduan ibu sakit kepala atau ada rasa mual dan ingin muntah. Dengan adanya frekuensi nadi yang menurun dengan volume yang baik merupakan suatu gejala yang baik.