INISIASI MENYUSU DINI (IMD)
Rabu, 17 Maret 2010Posted by
Ibnu Syahidun

Sekilas Tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Inisiasi Menyusu Dini adalah proses alami mengembalikan bayi manusia untuk menyusu, yaitu dengan memberi kesempatan pada bayi untuk mencari dan mengisap ASI sendiri, dalam satu jam pertama pada awal kehidupannya. Jadi, sebenarnya manusia seperti juga bayi mamalia lain yang mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri. Hal itu terjadi jika segera setelah lahir, bayi dibiarkan kontak kulit dengan kulit ibunya, setidaknya selama satu jam untuk menjamin berlangsungnya proses menyusui yang benar. Dengan menyusu secara baik dan benar maka kematian bayi serta gangguan perkembangan bayi dapat dihindari. (Swasono dalam Roesli, 2008:2).
Kebanyakan ibu tidak tahu bahwa membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah kelahiran atau yang biasa disebut proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sangat bermanfaat. Proses yang hanya memakan waktu satu jam tersebut berpengaruh pada sang bayi seumur hidup. Dengan melakukan Inisiasi Menyusu Dini, bayi belajar beradaptasi dengan kelahirannya di dunia. Dia yang baru saja keluar dari “tempat ternyaman di dunia” di dalam rahim sang Ibu, tentunya merasa trauma ketika harus berada di dunia luar. Selain itu, kedekatan antara ibu dengan bayinya akan terbentuk dalam proses Inisiasi Menyusu Dini tersebut. Sebab, dengan memisahkan si ibu dengan si bayi ternyata daya tahan tubuh si bayi akan drop hingga mencapai 25%. Ketika si ibu bersama dengan si bayi, daya tahan si bayi akan berada dalam kondisi prima, dan si ibu bisa melakukan proteksi terhadap si bayi jika memang perlu. Selain itu, kemampuan bayi untuk menyusu pun berkurang. dr. Radix Hadriyanto SpA dari RS Adi Husada menyatakan, sebanyak 50 persen bayi lahir normal yang dipisahkan dari ibunya saat dilahirkan tidak dapat menyusu, sedangkan bayi yang lahir dengan bantuan tindakan atau obat-obatan dan dipisahkan dari ibunya nyaris semua tidak dapat menyusu. “Kedekatan ibu dan bayi setelah dilahirkan sangat penting untuk proses selanjutnya,”. Melakukan Inisiasi Menyusu Dini dipercaya akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh si bayi terhadap penyakit-penyakit yang berisiko kematian tinggi. Misalnya kanker syaraf, leukimia, dan beberapa penyakit lainnya. Tidak hanya itu, Inisiasi Menyusu Dini juga dinyatakan menekan Angka Kematian Bayi (AKB) baru melahirkan hingga mencapai 22 persen 2008
Pendekatan inisiasi menyusu dini (IMD) yang sekarang dianjurkan adalah dengan metode breast crawl dimana segera setelah bayi lahir diletakkan di perut ibu dan dibiarkan merangkak untuk mencari sendiri puting ibunya dan akhirnya mengisapnya tanpa bantuan (Februhartanty, 2009: 4)
Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara saat kontak ibu-bayi pertama kali terhadap lama menyusui, bayi yang diberi kesempatan menyusu dini dengan meletakkan bayi dengan kontak kulit ke kulit segera selama satu jam, hasilnya dua kali lebih lama di susui. Pada usia enam bulan dan setahun, bayi yang diberi kesempatan menyusu dini, hasilnya 59% dan 38% yang masih disusui. Bayi yang tidak diberi kesempatan menyusu dini tinggal 29% dan 8% yang masih disusui di usia yang sama. Peneliti-peneliti dari Inggris di bawah pimpinan Dr. Karen Edmond melakukan penelitian di Ghana terhadap hampir 11.000 bayi menunjukkan bahwa jika bayi diberi kesempatan menyusu dalam satu jam pertama dengan dibiarkan kontak kulit ke kulit ibu (setidaknya selama satu jam) maka 22% nyawa bayi di bawah 28 hari dapat diselamatkan. Jika mulai menyusu pertama, saat bayi berusia di atas dua jam dan di bawah 24 jam pertama, tinggal 16% nyawa bayi di bawah 28 hari yang dapat di selamatkan. Sedangkan penelitian yang dilakukan di Jakarta menunjukkan bayi yang diberi kesempatan menyusu dini, hasilnya delapan kali lebih berhasil dalam pemberian ASI eksklusif. Dari hasil penelitian dalam dan luar negeri tersebut, ternyata inisiasi dini tidak hanya menyukseskan pemberian ASI eksklusif. Lebih dari itu, terlihat hasil yang nyata, yaitu menyelamatkan nyawa bayi (Roesli, 2008: 7). Pengetahuan tentang inisiasi dini belum banyak diketahui masyarakat, bahkan juga petugas kesehatan. Hal ini wajar karena inisiasi menyusu dini adalah ilmu pengetahuan yang baru bagi Indonesia (Swasono dalam Roesli, 2008: 2).
UNTUK MENCARI DARI SUMBER LAIN SILAHKAN PILIH SITUS DIBAWAH INI
Inisiasi Menyusu Dini adalah proses alami mengembalikan bayi manusia untuk menyusu, yaitu dengan memberi kesempatan pada bayi untuk mencari dan mengisap ASI sendiri, dalam satu jam pertama pada awal kehidupannya. Jadi, sebenarnya manusia seperti juga bayi mamalia lain yang mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri. Hal itu terjadi jika segera setelah lahir, bayi dibiarkan kontak kulit dengan kulit ibunya, setidaknya selama satu jam untuk menjamin berlangsungnya proses menyusui yang benar. Dengan menyusu secara baik dan benar maka kematian bayi serta gangguan perkembangan bayi dapat dihindari. (Swasono dalam Roesli, 2008:2).
Kebanyakan ibu tidak tahu bahwa membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah kelahiran atau yang biasa disebut proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sangat bermanfaat. Proses yang hanya memakan waktu satu jam tersebut berpengaruh pada sang bayi seumur hidup. Dengan melakukan Inisiasi Menyusu Dini, bayi belajar beradaptasi dengan kelahirannya di dunia. Dia yang baru saja keluar dari “tempat ternyaman di dunia” di dalam rahim sang Ibu, tentunya merasa trauma ketika harus berada di dunia luar. Selain itu, kedekatan antara ibu dengan bayinya akan terbentuk dalam proses Inisiasi Menyusu Dini tersebut. Sebab, dengan memisahkan si ibu dengan si bayi ternyata daya tahan tubuh si bayi akan drop hingga mencapai 25%. Ketika si ibu bersama dengan si bayi, daya tahan si bayi akan berada dalam kondisi prima, dan si ibu bisa melakukan proteksi terhadap si bayi jika memang perlu. Selain itu, kemampuan bayi untuk menyusu pun berkurang. dr. Radix Hadriyanto SpA dari RS Adi Husada menyatakan, sebanyak 50 persen bayi lahir normal yang dipisahkan dari ibunya saat dilahirkan tidak dapat menyusu, sedangkan bayi yang lahir dengan bantuan tindakan atau obat-obatan dan dipisahkan dari ibunya nyaris semua tidak dapat menyusu. “Kedekatan ibu dan bayi setelah dilahirkan sangat penting untuk proses selanjutnya,”. Melakukan Inisiasi Menyusu Dini dipercaya akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh si bayi terhadap penyakit-penyakit yang berisiko kematian tinggi. Misalnya kanker syaraf, leukimia, dan beberapa penyakit lainnya. Tidak hanya itu, Inisiasi Menyusu Dini juga dinyatakan menekan Angka Kematian Bayi (AKB) baru melahirkan hingga mencapai 22 persen 2008
Pendekatan inisiasi menyusu dini (IMD) yang sekarang dianjurkan adalah dengan metode breast crawl dimana segera setelah bayi lahir diletakkan di perut ibu dan dibiarkan merangkak untuk mencari sendiri puting ibunya dan akhirnya mengisapnya tanpa bantuan (Februhartanty, 2009: 4)
Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara saat kontak ibu-bayi pertama kali terhadap lama menyusui, bayi yang diberi kesempatan menyusu dini dengan meletakkan bayi dengan kontak kulit ke kulit segera selama satu jam, hasilnya dua kali lebih lama di susui. Pada usia enam bulan dan setahun, bayi yang diberi kesempatan menyusu dini, hasilnya 59% dan 38% yang masih disusui. Bayi yang tidak diberi kesempatan menyusu dini tinggal 29% dan 8% yang masih disusui di usia yang sama. Peneliti-peneliti dari Inggris di bawah pimpinan Dr. Karen Edmond melakukan penelitian di Ghana terhadap hampir 11.000 bayi menunjukkan bahwa jika bayi diberi kesempatan menyusu dalam satu jam pertama dengan dibiarkan kontak kulit ke kulit ibu (setidaknya selama satu jam) maka 22% nyawa bayi di bawah 28 hari dapat diselamatkan. Jika mulai menyusu pertama, saat bayi berusia di atas dua jam dan di bawah 24 jam pertama, tinggal 16% nyawa bayi di bawah 28 hari yang dapat di selamatkan. Sedangkan penelitian yang dilakukan di Jakarta menunjukkan bayi yang diberi kesempatan menyusu dini, hasilnya delapan kali lebih berhasil dalam pemberian ASI eksklusif. Dari hasil penelitian dalam dan luar negeri tersebut, ternyata inisiasi dini tidak hanya menyukseskan pemberian ASI eksklusif. Lebih dari itu, terlihat hasil yang nyata, yaitu menyelamatkan nyawa bayi (Roesli, 2008: 7). Pengetahuan tentang inisiasi dini belum banyak diketahui masyarakat, bahkan juga petugas kesehatan. Hal ini wajar karena inisiasi menyusu dini adalah ilmu pengetahuan yang baru bagi Indonesia (Swasono dalam Roesli, 2008: 2).
- Inisiasi Menyusu Dini Yang Dianjurkan
- Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.
- Keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala secepatnya, kecuali kedua tangannya.
- Tali pusat dipotong, lalu diikat.
- Vernix (zat lemak putih) yang melekat ditubuh bayi sebaiknya tidak dibersihkan karena zat ini membuat nyaman kulit bayi.
- Tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan di dada atau perut ibu untuk kontak kulit bayi dan kulit ibu. Ibu dan bayi diselimuti bersama-sama, jika perlu, bayi diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepala.
- Inisiasi Menyusu Dini Yang Kurang Tepat
- Begitu lahir, bayi diletakkan diperut ibu yang sudah dialasi kain kering.
- Bayi segera dikeringkan dengan kain kering. Tali pusat dipotong, lalu diikat.
- Karena takut kedinginan, bayi dibungkus (dibedong) dengan selimut bayi.
- Dalam keadaan dibedong, bayi diletakkan di dada ibu (tidak terjadi kontak dengan kulit ibu). Bayi dibiarkan di atas dada (bonding) untuk beberapa lama (10-15 menit) atau sampai tenaga kesehatan selesai menjahit perineum.
- Selanjutnya diangkat dan disusukan pada ibu dengan cara memasukkan putting susu ibu ke mulut bayi.
- Setelah itu, bayi dibawa ke kamar transisi atau kamar pemulihan untuk ditimbang, diukur, dicap, diberi suntikan vitamin K, dan kadang diberi tetes mata.
- Tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini Secara Umum
- Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.
- Disarankan untuk tidak atau mengurangi penggunaan obat kimiawi saat persalinan. Dapat diganti dengan cara non-kimiawi, misalnya pijat, aromaterapi, gerakan, atau hypnobirthing.
- Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan, misalnya melahirkan normal, di dalam air, atau dengan jongkok.
- Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua tangan. Lemak putih yang menyamakankan kulit bayi sebaiknya dibiarkan.
- Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu. Biarkan kulit bayi melekat dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini dipertahankan minimum satu jam atau setelah menyusu awal selesai. Kedua diselimuti. Jika perlu, digunakan topi bayi.
- Bayi dibiarkan mencari putting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi ke putting susu.
- Ayah didukung agar membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau perilaku bayi sebelum menyusu. Hal ini dapat berlangsung beberapa menit atau satu jam, bahkan lebih. Dukungan ayah akan meningkatkan rasa percaya dini ibu. Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan dengan kulit ibunya setidaknya selama satu jam, walaupun ia telah berhasil menyusu pertama sebelum satu jam. Jika belum menemukan putting payudara ibunya dalam waktu satu jam, biarkan kulit bayi tetap bersentuhan dengan kulit ibunya sampai berhasil menyusu pertama.
- Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan kulit pada ibu yang melahirkan dengan tindakan, misalnya operasi Caesar.
- Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dan dicap setelah satu jam atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasive, misalnya suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi dapat ditunda.
- Rawat gabung ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar. Selama 24 jam ibu-bayi tetap tidak dipisahkan dan bayi selalu dalam jangkauan ibu. Pemberian minuman pre-laktal (cairan yang diberikan sebelum ASI keluar) dihindarkan.
UNTUK MENCARI DARI SUMBER LAIN SILAHKAN PILIH SITUS DIBAWAH INI